Budidaya Ikan Nila

December 20, 2008

BUDIDAYA IKAN NILA

(Oreochromis niloticus)


Oleh :

JULIA HASNI

DIPLOMA IV PROGRAM STUDI AKUAKULTUR

SEKOLAH ILMU DAN TEKNOLOGI HAYATI

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

2008


BUDIDAYA IKAN NILA

(Oreochromis niloticus)


I. Sejarah Singkat

Ikan nila (Oreochromis sp.) termasuk salah satu jenis ikan yang amat potensial untuk dibudidayakan secara intensif karena ikan nila memiliki sifat biologi yang menguntungkan antara lain mudah berkembangbiak, pertumbuhannya cepat, pemakan segala bahan makanan (omnivora), daya adaptasinya luas, dan toleransinya tinggi terhadap berbagai kondisi lingkungan.

Ikan nila merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan bentuk tubuh memanjang dan pipih kesamping dan warna putih kehitaman. Ikan nila berasal dari Sungal Nil dan danau-danau sekitarnya. Sekarang ikan ini telah tersebar ke negara-negara di lima benua yang beriklim tropis dan subtropis. Sedangkan di wilayah yang beriklim dingin, ikan nila tidak dapat hidup baik Ikan nila disukai oleh berbagai bangsa karena dagingnya enak dan tebal seperti daging ikan kakap merah. Bibit ikan didatangkan ke Indonesia secara resmi oleh Balai Penelitian Perikanan Air Tawar pada tahun 1969. Setelah melalui masa penelitian dan adaptasi, barulah ikan ini disebarluaskan kepada petani di seluruh Indonesia. Nila adalah nama khas Indonesia yang diberikan oleh Pemerintah melalui Direktur Jenderal Perikanan.

Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi ikan adalah dengan memanfaatkan perairan umum salah satunya adalah daerah pesisir pantai. Lahan perairan umum masih sangat potensial untuk pengembangan budidaya ikan. Perkiraan potensi lahan perairan umum untuk budidaya ikan di Indonesia sekitar 135.700 hektar. Ikan nila dipilih sebagai salah satu komoditas yang dibudidayakan di daerah pantai karena toleran terhadap salinitas, pertumbuhannya cepat, respons yang baik terhadap kondisi berjejal dan pakan buatan (pelet) cukup baik serta rasa dagingnya yang enak, sehingga memiliki keunggulan komparatif sebagai komoditas andalan dan mempunyai prospek yang cerah untuk dikembangkan.

II. Persyaratan Lokasi Untuk Budidaya Ikan Nila

Sebelum melaksanakan budidaya ikan nila, sebaiknya dilakukan observasi terhadap lokasi yang akan dijadikan lahan untuk budidaya ikan nila. Adapun syarat-syarat lokasi yang menunjang antara lain :

  1. Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung, tidak berporos. Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar dan tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam.
  2. Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-5% untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.
  3. Ikan nila cocok dipelihara di dataran rendah sampai agak tinggi (500 m dpl).
  4. Kualitas air untuk pemeliharaan ikan nila harus bersih, tidak terlalu keruh dan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/ limbah pabrik. Kekeruhan air yang disebabkan oleh pelumpuran akan memperlambat pertumbuhan ikan. Lain halnya bila kekeruhan air disebabkan oleh adanya plankton. Air yang kaya plankton dapat berwarna hijau kekuningan dan hijau kecokelatan karena banyak mengandung Diatomae. Sedangkan plankton/alga biru kurang baik untuk pertumbuhan ikan. Tingkat kecerahan air karena plankton harus dikendalikan yang dapat diukur dengan alat yang disebut piring secchi (secchi disc). Untuk di kolam dan tambak, angka kecerahan yang baik antara 20-35 cm.
  5. Debit air untuk kolam air tenang 8-15 liter/detik/ha. Kondisi perairan tenang dan bersih, karena ikan nila tidak dapat berkembang biak dengan baik di air arus deras.
  6. Nilai keasaman air (pH) tempat hidup ikan nila berkisar antara 6-8,5. Sedangkan keasaman air (pH) yang optimal adalah antara 7-8.
  7. Suhu air yang optimal berkisar antara 25-30 derajat C.
  8. Kadar garam air yang disukai antara 0-35 per mil.

III. Persiapan Kolam

Jenis kolam yang ideal untuk pemeliharaan ikan nila berupa kolam dengan jenis tanah liat atau liat berpasir. Sebaiknya kedalam kolam yang akan dibuat berkisar antara 0.5 – 1m. kedalaman kolam mempengaruhi tingkat kesuburan kolam, dimana kedalaman berpengaruh terhadap banyaknya sinar matahari yang masuk yang berperan dalam proses fotosintesis sehingga menyebabkan tersedianya makanan alami bagi ikan.

Kolam harus memiliki saluran pemasukan dan pengeluaran air. Hai ini penting untuk mengatur sirkulasi air di kolam. Sebelum kolam diisi air sebaiknya Kolam dikeringkan dan dijemur selama 4-7 hari/sampai dasar kolam retak-retak. Hal ini berguna untuk membasmi hama dan bibit penyakit.

Pemberian kapur pada kolam dengan dosis 10-25 gram/m2, hal ini berguna untuk membasmi bibit penyakit yang masih terdapat di dasar kolam dan selain itu juga dapat meningkatkan PH air.

Pupuk yang digunakan berupa pupuk kandang maupun pupuk buatan. Hal ini perlu karena ikan nila menyukai pakan plankton. Pupuk kandang paling baik diberikan pada awal persiapan kolam dengan dosis 250 g/m3, setelah kolam diisi air selanjutnya diberikan pupuk anorganik berupa urea dan TSP dengan dosis masing-masing 2.5 g/m2 dan 1.25 g/m2.

sumber air dapat berasal dari sungai, danau, mata air atau air sumur. untuk pengisian pertama, kolam diisi air hingga ketinggian 5-10 cm dan dibiarkan selama 3-4 hari. hal ini berguna untuk tumbuhnya makanan alami di kolam. selanjutnya kolam diisi penuh dan dilanjutkan dengan pemupukan dengan pupuk organik.

IV. Penebaran Benih

Ciri-ciri benih yang baik adalah berwarna cerah dan pergerakannya lincah. Penebarannya berkisar sekitar 15-20 ekor/M2 tergantung dengan ukuran benih. Sebelum ditebar, benih disucihamakan terlebih dahulu dengan direndam pada larutan Kalium Permanganat (PK) atau garam dapur selama 1-2 hari. Penebaran dilakukan pada pagi atau sore hari. Saat penebaran, dilakukan Aklimatisasi (memasukkan kantong benih kedalam kolam sehingga air kolam masuk ke wadah benih sedikit demi sedikit) kemudian secara perlahan benih dikeluarkan.

V. Pemberian Pakan

Pemupukan kolam telah merangsang tumbuhnya fitoplankton, zooplankton, maupun binatang yang hidup di dasar, seperti cacing, siput, jentik-jentik nyamuk dan chironomus (cuk). Semua itu dapat menjadi makanan ikan nila. Namun, induk ikan nila juga masih perlu pakan tambahan berupa pelet yang mengandung protein 30-40% dengan kandungan lemak tidak lebih dan 3%. Pembentukan telur pada ikan memerlukan bahan protein yang cukup di dalam pakannya. Perlu pula ditambahkan vitamin E dan C yang berasal dan taoge dan daun-daunan/sayuran yang duris-iris. Boleh juga diberi makan tumbuhan air seperti ganggeng (Hydrilla).

Banyaknya pelet sebagai pakan induk kira-kira 3% berat biomassa per han. Agar diketahui berat bio massa maka diambil sampel 10 ekor ikan, ditimbang, dan dirata-ratakan beratnya. Berat rata-rata yang diperoleh dikalikan dengan jumlah seluruh ikan di dalam kolam. Misal, berat rata-rata ikan 220 gram, jumlah ikan 90 ekor maka berat biomassa 220 x 90 = 19.800 g. Jumlah ransum per han 3% x 19.800 gram = 594 gram. Ransum ini diberikan 2-3 kali sehari. Bahan pakan yang banyak mengandung lemak seperti bungkil kacang dan bungkil kelapa tidak baik untuk induk ikan. Apalagi kalau han tersebut sudah berbau tengik. Dedak halus dan bekatul boleh diberikan sebagai pakan. Bahan pakan seperti itu juga berfungsi untuk menambah kesuburan kolam.

Advertisements

Welcome..!!

December 20, 2008

Julia Hasni

“Jika Anda Menyimpan ranting segar didalam hati anda, maka akan ada burung cantik yang akan berkicau dengan merdu dan bersemayam disana”.

Ini hanya cerita singkat tentang diri saya dari semasa kecil hingga sekarang.

Nama saya Julia Hasni, saya dilahirkan pada tanggal 05 September 1986, oleh keluarga saya biasa dipanggil dengan sebutan ”kakak” dan teman-teman biasa memanggil dengan nama Lia. Saya lahir dan dibesarkan dalam sebuah keluarga yang bisa dikatakan berkecukupan, saya sulung dari 2 bersaudara dan mempunyai adik laki-laki.

Saya bersyukur karena orang tua sangat menyayangi kami karena hampir semua kebutuhan yang kami inginkan alhamdulillah dapat terpenuhi. Masa kecil ku sangat bahagia, memiliki keluarga yang penuh perhatian serta kasih sayang yang besar. Saya mulai menginjakkan kaki di Taman Kanak-kanak pada umur 4 tahun di Taman Kanak-kanak PGRI yang tidak jauh dari lingkungan tempat tinggal saya.

Selama bersekolah di Taman Kanak-kanak, saya biasa di antar jemput oleh Orang Tua yang keduanya memiliki profesi sebagai guru. Biarpun dalam keadaan sibuk, tapi mereka selalu menyempatkan diri untuk mengantar dan menjemput saya di sekolah.

Tanpa terasa, sekolah Taman Kanak-kanak telah saya lewati dan tiba saatnya saya memasuki jenjang Sekolah Dasar. Dengan dorongan yang kuat dari orang tua dan dengan kemauan yang kuat, saya akhirnya melanjutkan sekolah di SD Negeri 5 Kecamatan Mutiara tepatnya di Kabupaten Aceh Pidie dimana disekolah tersebut saya mendapat banyak teman-teman baru, guru-guru baru dan suasana yang baru pula. Dengan semangat dan kerja keras, saya akhirnya dapat memperoleh hasil yang sangat memuaskan dan tentunya bisa membahagiakan kedua orang tua.

Pada tahun 1998 yaitu setelah menyelesaikan pendidikan tingkat Sekolah Dasar, saya melanjutkan sekolah ke jenjang SLTP dimana dalam hal ini saya bersekolah di SLTP Negeri 1 Mutiara. SLTP tersebut merupakan salah satu SLTP ter favorit di Kecamatan Mutiara yang lokasinya juga tidak jauh dari lingkungan tempat tinggal saya. Disekolah SLTP tersebut, kita diajarkan untuk mulai menerapkan sifat kedewasaan pada diri kita atau dengan kata lain menghilangkan sifat-sifat kekanak-kanakan yang kita bawa semasa bersekolah di tingkat Sekolah Dasar sehingga dengan sendirinya akan dapat membentuk perilaku yang baik didalam diri kita . Berkat prestasi yang saya peroleh di Sekolah Dasar, akhirnya saya dapat duduk di kelas unggul dimana kelas itu terdapat banyak siswa-siswi yang memiliki prestasi yang baik pada jenjang Sekolah Dasar dan telah dipilih oleh pihak SLTP untuk dimasukkan ke kelas unggul. Bersekolah di SLTP Negeri 1 Mutiara, mengajarakan saya banyak hal yang tentunya sangat bermanfaat seperti Pelajaran dan pengalaman-pengalaman baru didalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Bukan hanya itu, bersekolah di SLTP Negeri 1 Mutiara mengajarkan saya bahwa betapa pentingnya menanamkan sifat kemandirian dalam usia yang masih tergolong muda sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kita dituntut untuk tidak selalu bergantung pada orang lain yang ada disekitar kita. Selain itu, kita juga diajarkan untuk dapat menghargai sesama agar nantinya tercipta keharmonisan dalam segala hal baik di lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat.

My day..

Setelah lulus dari SLTP, saya melanjutkan pendidikan ke SMA Negeri 1 Mutiara yang letaknya juga tidak jauh dari lingkungan tempat tinggal saya. Di SMA, saya telah membuktikan bahwa pada saat itu saya telah dewasa dan usia saya telah

menginjak 15 tahun. Saya menyadari bahwa pada usia itu, saya harus lebih giat dalam belajar dan berusaha untuk mencapai keberhasilan dalam sekolah. Pada saat kenaikan kelas, saya mendapatkan program studi IPA yang memang telah sejak lama saya inginkan. Belajar diprogram IPA bagi saya sangat menantang tapi menyenangkan.

Saat naik ke kelas 3, saya masih duduk di program IPA dan saya rasakan pelajaran yang diberikan semakin sulit dan lebih menantang, tapi itu semua tidak membuat saya menyerah. Saya sadari bahwa saya harus terus berusaha untuk mendapatkan nilai yang baik karena tahun itu merupakan tahun terakhir di SMA, saya akan berusaha membuktikan kepada orang tua dan sahabat-sahabat semua bahwa saya akan bisa menyelesaikan dan akan lulus dalam menghadapi ujian akhir.

Untuk lebih memantapkan diri menghadapi ujian akhir agar mendapatkan hasil yang diinginkan, saya mengikuti les mata pelajaran yang akan di ujiankan pada ujian akhir. Meskipun sangat melelahkan, akan tetapi demi kelulusan dan ambisi untuk mendapatkan nilai yang baik saya tetap memfokuskan pikiran dan berkonsentrasi pada mata pelajaran yang akan di ujiankan pada ujian akhir di sekolah, agar pada nantinya impian untuk memperoleh kelulusan dan nilai yang sempurna akan saya dapatkan.

Akhirnya berkat doa, kerja keras dan dukungan dari orang-orang terdekat, akhirnya saya lulus dengan nilai yang sempurna dan sangat memuaskan. Walaupun telah mendapat hasil yang baik di SMA, saya sadari bahwa jenjang yang lebih tinggi telah ada didepan mata, dan tentunya akan lebih sulit dari dari pada jenjang pendidikan sebelumnya.

Setelah menyelesaikan pendidikan di SMA, saya mendapat rekomendasi dari Dinas Kabupaten untuk melanjutkan pendidikan di Program Diploma 3 yang bertempat di Vedca Cianjur (Jawa Barat). Mengikuti pendidikan di Cianjur adalah kali pertama saya hidup jauh dari orang tua dan keluarga. Perasaan sedih sering saya alami ketika mengingat keluarga yang jauh disana, tapi itu semua tidak membuat saya menyerah begitu saja. Dengan kebulatan tekad dan kemauan yang kuat, saya akhirnya terbiasa dengan kehidupan yang saya jalani. Di Vedca Cianjur, saya memilih jurusan Akuakultur karena menurut saya jurusan tersebut sangat baik di kembangkan di daerah tempat tinggal saya mengingat sebagian besar potensi yang baik untuk dikembangkan didaerah saya adalah pada bidang perikanan.

Setelah 1 tahun mengikuti perkuliahan, pada tahun ke 2 kami diwajibkan melaksanakan magang pada masing-masing jurusan yang kami pilih yang bertujuan untuk memenuhi salah satu persyaratan akademik. Magang industri saya laksanakan di Balai Budidaya Udang yang bertempat di Ciamis Jawa Barat. Pada masa magang, kami dituntut untuk mempelajari tehnik budidaya udang dimulai dari Pembenihan, Pembesaran hingga pemasarannya dan mempraktekkan langsung cara penanganannya dilapangan. Di Balai Budidaya Udang Ciamis, saya mendapatkan banyak pengalaman yang sebelumnya tidak saya dapatkan di VEDCA. Dengan pengalaman tersebut, saya mendapatkan pengetahuan tambahan tentang budidaya udang yang nantinya bisa di kembangkan didaerah saya. Setelah 4 bulan saya melaksanakan magang industri di Ciamis, saya pulang ke daerah untuk melaksanakan magang sekolah yang bertempat di SMK Negeri 3 Perikanan dan Kelautan Sigli. Di SMK tersebut, saya dituntut untuk menjadi seorang (guru) Juliapengajar, belajar menjadi seorang pendidik bagi siswa-siswi. Dalam kegiatan magang di Sekolah, saya mengajar mata pelajaran Budidaya Ikan. Setelah menyelesaikan magang sekolah saya kembali lagi kecinjur untuk melanjutkan sisa kuliah yang tinggal 1 tahun lagi, dan akhirnya tahun 2007 saya lulus D3 dengan gelar A.Md. Setelah lulus D3 saya kembali kedaerah, saya pun mulai mengajar kembali layaknya seorang guru di SMK dengan program studi Budidaya Perikanan. Saat ini, saya sedang mengikuti program ahli jenjang dari D3 ke D4 yang dilaksanakan di Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB yang bekerjasama dengan SEAMOLEC dan Vedca Cianjur.

Hello world!

December 15, 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!